Pengamat Ekonomi Hendri Saprini menyebutkan hilirisasi dan
industrialisasi yang dilakukan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) menjadi faktor
penguat ekonomi Indonesia saat ini. Hal itu disebutnya dalam "Workshop
Hilirisasi Pada Sektor Industri Kimia dan Peran Sektor Infrastruktur" di
Bandung
Hendri mengatakan hilirisasi yang dilakukan pemerintah telah
memberikan kontribusi sebanyak 30% pada total investasi di 2023. Sehingga,
meski di tahun politik saat ini siapa pun presiden terpilih mau tidak mau akan
dituntut untuk meneruskan hilirisasi ini.
“Melihat karakteristik investasi yang ada di Indonesia selama 34
tahun terakhir, maka siapa pun yang menjadi presiden di 2024 hilirisasi akan
dilanjutkan untuk memudahkan berbagai investasi-investasi. Oleh karena itu,
sebaiknya kalian masih optimistis kalau dari sisi pertumbuhan investasinya akan
tinggi,” ungkapnya.
Lalu terkait industrialisasi, Rini menyatakan realisasi yang
dilakukan pemerintah selama 4 tahun terakhir telah mampu menaikkan nilai tambah
dari pada harga produk nasional dan membantu penguatan ekonomi Indonesia saat
ini.
Namun, dia menyatakan industrialisasi yang telah dilakukan belum
benar-benar membangun industri dan ekosistemnya secara maksimal di Indonesia,
sehingga masih perlu strategi dan keberlanjutkan agar dapat menghasilkan
ekosistem yang mumpuni.
Dalam kata lain, hilirisasi dan industrialisasi saat ini baru pada
level awal. “Kalau cuman buat step saja tidak akan menyelesaikan masalah
lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, dan pendapatan
masyarakat, itu tidak akan terjadi,” tuturnya.
“Jadi kalau menurut saya itu harus didorong, harus disiapkan
industri strateginya. Lalu diperluas hilirisasinya untuk menambah dan
menumbuhkan investasi baru,” terangnya lagi. Sebagai informasi, giat
hilirisasi yang dilakukan Jokowi beberapa waktu ke belakang ini lewat larangan
ekspor bahan mentah (seperti tembaga dan bauksit) memang telah menarik banyak
sorotan dari berbagai negara.
Hal itu mengakibatkan perusahaan yang tertarik menggunakan sumber
mineral di Indonesia untuk pembuatan baterai kendaraan listrik dan diwajibkan
membangun smelter di Indonesia.
