Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memimpin langsung
rapat koordinasi dengan beberapa kepala perwakilan RI di Ankara, Turki, Kamis
(2/5), guna mematangkan langkah-langkah pelindungan WNI di tengah krisis Timur
Tengah. “Situasi
Timur Tengah sangat dinamis, kita tahu semua. Kita terus berusaha agar
de-eskalasi terjadi. Namun, kita juga harus mempersiapkan diri jika situasi
semakin memburuk, termasuk pelindungan terhadap WNI,” ujar Retno
Dalam rapat tersebut, kata Retno, juga dibahas
persiapan evakuasi WNI jika situasi memburuk. “Persiapan matang selalu diperlukan dan
menjadi utama sehingga kita tidak tergagap jika situasi memburuk,” katanya.
Berdasarkan catatan Kemlu, jumlah WNI yang tinggal
di wilayah rawan konflik antara lain di Yordania sebanyak 1.524 orang, di
Tepi Barat dan Israel (131 orang), di Mesir (15.708 orang), di Lebanon (217
orang dan 1.232 personel Satgas UNIFIL), di Suriah (2.361 orang), di Yaman
(4.866 orang), serta di Irak (kurang lebih (796 orang).
Setelah menggelar rapat tersebut, Retno melanjutkan
agenda terakhirnya di Turki dengan menemui para konsul kehormatan RI di Turki. “Turki adalah negara dengan luas wilayah
yang besar. Dengan luasnya wilayah, maka upaya untuk memperjuangkan kepentingan
Indonesia akan lebih sulit dilakukan jika hanya ditopang dari KBRI Ankara dan
KJRI Istanbul,” ujar dia.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia telah menunjuk
lima konsul kehormatan. Mereka adalah warga negara Turki yang diberi tugas
khusus oleh pemerintah Indonesia untuk membantu pelindungan WNI dan juga
membantu promosi kerja sama ekonomi. “Dalam pertemuan, saya sampaikan mengenai arah kerja
sama bilateral Indonesia dan Turki dan saya sampaikan terima kasih atas peran
mereka dalam membantu misi diplomatik, kekonsuleran, dan ekonomi Indonesia di
Turki,” kata Retno.
Sehari sebelumnya, Retno telah melakukan pertemuan
dengan Menlu Turki Hakan Fidan kemudian dengan Menlu Pertahanan Turki Yasar
Guler, untuk antara lain membahas peningkatan hubungan bilateral kedua negara
serta isu-isu global.
Tags
Joko Widodo
